msc

Tugas 4: Biaya Modal, Contoh Kasus Perusahaan dan Solusinya


Biaya Modal, Contoh Kasus Perusahaan dan Solusinya

Pengertian Biaya Modal
Biaya modal (Cost of Capital) adalah biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yg berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, dan laba ditahan untuk mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan.
Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh dana yang diperlukan.

Cost of Retained Earning
Biaya modal yg terjadi jika laba ditahan (LD) digunakan untuk reinvestasi di perusahaan ybs, biaya tsb sebesar tingkat keuntungan investasi (rate of return) yang diisyaratkan diterima oleh para investor.
Jika  ”LD”  diinvestasikan pada perusahaan lain akan memproleh keuntungan yang besarnya sama dg keuntungan jika perusahaan reinvestasi sendiri ”LD” tsb.
•       Biaya modal dihitung berdasarkan biaya untuk masing-masing sumber dana (biaya modal individual).
•       Namun, jika perusahaan menggunakan beberapa sumber modal maka biaya modal yang dihitung adalah biaya modal rata-rata tertimbang dari seluruh modal yang digunakan.
•       Biaya modal rata-rata tertimbang ini disebut dengan  ”weight average cost of capital” (WACC).
•       Konsep biaya modal erat kaitannya dg konsep tingkat keuntungan yg disyaratkan(required rate of return) yg dapat dilihat dari 2 sisi yaitu investor & perusahaan.
•       tinggi rendahnya required rate
•       Sisi investor, of return mrp tingkat keuntungan (rate of return) yg mencerminkan tingkat risiko dari aktiva yang dimiliki.
•       Sisi perusahaan yg menggunakan dana (modal), besarnya required rate of returnmerupakan biaya modal (cost of capital) yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan modal tersebut.

1.3 Fungsi Biaya Modal
a. Terkait dengan pajak yg dikenakan pd perusahaan.
Biaya modal yang dikenakan pada modal pinjaman berbeda dg biaya modal dari modal sendiri.
Konsep perhitungan biaya modal didasarkan pd perhitungan :
a. sebelum pajak (before tax basis)
Perlu disesuaikan dulu dg pajak sebelum dilakukan peritungan biaya modal rata-ratanya seperti bligasi.
b. setelah pajak (after tax basis).
     b. Sebagai Discount Rate
Untuk menentukan diterima atau ditolaknya             suatu usulan investasi yaitu dengan membandingkan tingkat keuntungan (rate of return) dari usulan investasi tsb dengan biaya modalnya. 
Biaya modal di sini adalah biaya modal yang menyeluruh (overall cost of capital).
        Misalnya jika kita menggunakan metode Net Present Value atau Profitability Index untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investai, maka biaya modal berfungsi sbg "discount rate" yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari proceeds dan pengeluaran investasi.

1.4 Jenis Biaya Modal
a. Biaya Modal Individual
1) Biaya Modal Hutang Jangka Pendek
        Hutang jangka pendek (hutang lancar) mrp hutang yg jangka waktu pengembaliannya kurang dr 1 tahun, yang terdiri dari hutang perniagaan (trade account payable), hutang wesel & kredit jk pendek dr bank.

2) Biaya Modal Hutang JK Panjang
        Pada dasarnya biaya penggunaan hutang jangka panjang (cost of debt) yang biasanya berasal dari obligasi (cost of bond).

3) Biaya Modal Saham Preferen (cost of preferred stock atau kp)
•       adalah biaya riil yang harus dibayar jika perusahaan menggunakan dana dg menjual saham preferen.
•       kp diperhitungkan sebesar tingkat keuntungan yang disyaratkan (required rate of return) oleh investor pemegang saham preferen.
•       Artinya tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor merupakan biaya yang harus ditanggung emiten.
•       Biaya modal saham preferen mempunyai sifat campuran antara hutang dan saham biasa.                           
-       Mempunyai sifat hutang, karena saham preferen mengandung kewajiban tetap untuk memberikan pembayaran dividen secara periodik.
- Memiliki sifat seperti saham biasa karena saham preferen mrp bukti kepemilikan perusahaan yg mengeluarkan saham        preferen tersebut.
•       Demikian pula ketika perusahaan terpaksa dilikuidasi, maka perusahaan pemegang saham preferen mempunyai hak sebelum pemegang saham biasa.
•       Pembayaran dividen saham preferen dilakukan setelah pendapatan dikurangi pajak, sehingga biaya modal saham preferen tidak perlu lagi disesuaikan atau dikurangi dg pajak.
        
Biaya Modal Saham Biasa dan Laba Ditahan atau Biaya Modal Sendiri (equitas atau ke)
•       merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan yang memperoleh dana dengan menjual saham biasa atau menggunakan laba ditahan untuk investasi.
•       Peruasahaan dapat membagikan laba setelah pajak yang diperoleh sebagai dividen atau menahannya dalam bentuk laba ditahan. Laba ditahan yang digunakan untuk investasi kembali tersebut perlu diperhitungkan biaya modalnya.
Biaya modal adalah sebuah konsep dinamis yang dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor ekonomi dan perusahaan. Struktur dasar dari biaya modal dibuat dengan beberapa asumsi yang berhubungan dengan risiko dan pajak. Biaya modal diperkirakan untuk suatu waktu tertentu. Biaya modal mencerminkan rata-rata biaya permodalan yang akan datang berdasarkan data yang tersedia. Pandangan ini sesuai dengan penggunaan biaya modal untuk membuat keputusan investasi jangka panjang.
Walaupun perusahaan mengumpulkan dananya sekaligus, biaya modal mencerminkan hubungan aktivitas pembiayaan. Misalnya perusahaan hari ini menarik dana dengan hutang, tetapi untuk yang akan datang digunakan modal sendiri seperti saham biasa. Banyak perusahaan menggabungkan antara pembiayaan dengan hutang maupun pembiayaan dengan modal sendiri secara optimal.

Bagaimana perhitungan biaya hutang (cost of debt)?
Bagaimana perhitungan biaya saham preferen (cost of preferred stock)?
Bagaimana perhitungan biaya laba ditahan (cost of retained earning)?
Bagaimana perhitungan biaya penerbitan saham baru (cost of issued common stock)?
Apa pengertian dan bagaimana perhitungan dari weighted average cost of capital (WACC)?
Apa pengertian dan bagaimana perhitungan dari marginal cost of capital (MCC)?
Contoh:
Suatu perusahaan ingin membelanjai investasinya sebesar Rp. 1.000.000,- dengan mengeluarkan obligasi sebanyak 1000 lembar dengan nilai nominal Rp. 1000 per lembar. Obligasi dijual dengan harga sama dengan nilai nominal. Tingkat bunga obligasi sebesar 8% per tahun dan bunga dibayarkan setiap tahun. Obligasi jatuh tempo dalam waktu 10 tahun.
Berdasarkan contoh tersebut, perusahaan harus membayar bunga setiap tahun sebesar Rp. 80.000,- dan pada akhir tahun ke-10 perusahaan melunasi pokok pinjaman sebesar sebesar Rp. 1.000.000,- dengan demikian besarnya biaya modal obligasi (kd) dapat dihitung sebagai berikut:
Rp.1.000.000=(Rp.80.000)/(1+kd)^( 1) +(Rp.80.000)/(1+kd)^( 2) + +(Rp.1.080.000)/(1+kd)^( 10)
Karena obligasi yang dijual dengan harga sama dengan nilai nominal, maka biaya modal obligasi (kd) adalah sama YTM (yield to maturity) dari obligasi tersebut, yaitu : kd = 8%. Dengan kata lain, jika perusahaan tidak mampu menghasilkan internal rate of return sebesar 8% dari investasi yang dilakukan, maka perusahaan tidak akan sanggup untuk membayar bunga dan nilai pokok dari obligasi tersebut.
Karena kd adalah biaya modal utang obligasi sebelum pajak, maka biaya modal utang obligasi setelah pajak dapat dihitung sebagai berikut :
Keterangan :
Kd* = biaya utang setelah pajak
Kd = biaya utang sebelum pajak
t = tarif pajak pendapatan perusahaan
Untuk contoh diatas, kd* adalah :
Biaya Saham Preferen (Cost Of Preferred Stock)
Biaya modal saham preferen merupakan biaya riil yang harus dibayar apabila perusahaan menggunakan dana dengan menjual saham preferen. Biaya modal saham preferen diperhitungkan sebesar keuntungan yang disyaratkan oleh investor pemegang saham preferen.
Saham preferen mempunyai karakteristik gabungan antara utang dengan saham, karena merupakan bentuk kepemilikan (saham), tetapi deviden yang dibayarkan mirip dengan bunga karena bersifat tetap. Perhitungan biaya modal preferen mudah dilakukan, sama seperti perhitungan biaya utang. Parameter diestimasi relatif jelas. Biaya saham preferen (kps) adalah :
Dimana:
kps = biaya saham preferen
Dps = deviden saham preferen
P = harga saham preferen
Misal perusahaan menjual saham preferen, kas masuk yang diterima adalah Rp. 1000 per lembar. Deviden saham preferen adalah Rp. 250 per lembar. Biaya modal saham preferen dihitung :
Karena deviden ( termasuk untuk saham preferen ) tidak mengurangi pajak, maka net pajak tidak dihitung untuk biaya modal saham preferen. Angka 25% yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya utang (20% dan 12,6% untuk net pajak) mencerminkan hal tersebut, disamping risiko saham preferen yang lebih tinggi dibandingkan dengan resiko utang ( dari sisi investor).
Biaya Laba Ditahan / Ekuitas Eksternal (Cost Of Retained Earning)
Laba ditahan sering disebut sebagai sesuatu yang gratis, karena laba ditahan adalah uang yang tersisa setelah dividen dibayar. Tapi, modal ini tetap memiliki biaya. Alasannya biaya saldo laba ditahan berhubungan dengan prinsip biaya kesempatan (opportunity cost principle). Laba setelah pajak adalah milik para pemegang saham. Pemegang saham obligasi menerima kompensasi berupa pembayaran bunga dan pemegang saham preferen berupa dividen preferen. Seluruh laba yang tersisa setelah bunga dan dividen saham preferen adalah milik pemegang saham biasa. Manajemen dapat membayarkan laba dalam bentuk dividen atua menahan laba untuk diinvestasikan kembali ke dalam usaha. Jika manajemen memutuskan untuk menahan laba, maka ada biaya kesempatan yang terlibat.
Ada beberapa pendekatan untuk menghitung biaya laba ditahan, yaitu sebagai berikut:
Pendekatan CAPM (Capital Asset Pricing Model)
Model CAPM (model penetapan harga aktiva modal) merupakan suatu model yang digunakan untuk mengestimasi return suatu sekuritas dan memformulasikan return suatu saham adalah sama dengan tingkat bunga bebas resiko ditambah premi resiko. Formulasinya:
Keterangan:
k_(s ) : biaya ekuitas (saham biasa baru)
k_RF : tingkaat hasi bebas risiko
k_M : tingkat hasil pasar
b_i : beta
Contoh: Sebuah saham memiliki nilai k_RF = 8%, k_M = 13% dan b_i = 0,7. Hitung k_(s )?
Jawab:
k_(s ) = k_RF +( k_M – k_RF)b_i
k_(s ) = 8% + (13% – 8%)(0,7)
= 8% + (5%)(0,7)
= 8%+ 3,5%
= 11,5%
Pendekatan imbal hasil divden ditambah tingkat pertumbuhan atau arus kas diskonto (discounted cash flow/DCF)
Bagi perusahaan-perusahaan yang diharapkan akan terus beroperasi tanpa batas waktu, arus kas adalah dividen. Sementara jika investor memperkirakan perusahaan akan diakuisisi oleh perusahaan lain atau dilikuidasi, maka arus kas adalah dividen selama beberapa waktu ditambah harga akhir ketika perusahaan diakuisisi atau dilikuidasi. Untuk penyederhaannya berlaku persamaan:
Keterangan:
P_0 : harga saham saat ini
D_t : dividen yang diharapkan akan dibayarkan pada akhir
tahun ke-t
k_s : biaya laba ditahan/ saham biasa/ ekuitas internal
g : pertumbuhan dividen
Jika dividen yang diharapkan tumbuh dengan tingkat yang konstan, maka formulasinya:
Jika mencari nilai k_s untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang diminta atas ekuitas biasa, bagi investor marginal akan sama dengan tingkat pengembalian yang diharapkan:
Contoh: Harga saham Allied dijual dengan harga sebesar $23, dividen berikutnya diharapkan adalah $1,24 dan tingkat pertumbuhan yang diharapkan adalah 8%. Berapa besar laba ditahan ?
Jawab:
k_s = ( D₀(1+g))/P+g=(D₁)/P+g
k_s = $1,24/$23 + 8%
= 5,4% + 8,0%
= 13,4%
Angka 13,4% adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan akan diterima oleh manajemen atas laba ditahan untuk memberikan penanaman kembali laba ke dalam usaha dan bukan membayarkannya kepada pemegang saham sebagai dividen.
Pendekatan imbal hasil obligasi ditambah premi resiko
Biasanya perusahaan memperkirakan premi resiko sebesar 3 hingga 5 persen pada tingkat suku bunga utang jangka panjang perusahaan tersebut.
Contoh, jika perusahaan Allied memberikan imbal hasil oblogasi 10% dan biaya premi risiko sebesar 4%, maka biaya ekuitasnya dapat diestimasikan dengan cara sebagai berikut:
Jawab:
k_s = 10% + 4% = 14%
Biaya Penerbitan Saham Baru (Cost Of Issued Common Stock)
Perusahaan biasanya menggunakan bankir investasi (biaya emisi) ketika menerbitkan saham biasa, preferen atau obligasi. Sebagai imblan atas pembayaran tersebut, bankir investasi akan membantu perusahaan menyusun persyaratan-peersyaratan dan menentukan harga emisi dan kemudian menjualnya kepada para investor. Formulasi biasya saham baru:
Keterangan:
k_e : biaya saham biasa baru/ ekuitas eksternal
D_1 : dividen yang diharapkan akan dibayarkan pada akhir tahun
Dg : pertumbuhan dividen
P : harga saham biasa per lembar
f : biaya penerbitan/ emisi (%)
Contoh: Harga saham Allied dijual dengan harga sebesar $23, dividen berikutnya diharapkan adalah $1,24, tingkat pertumbuhan yang diharapkan adalah 8% dan biaya emisi 10%. Berapa biaya saham biasa baru ?
Jawab:
k_ncs= ( D₀ (1+g))/(P (1-f))+g=(D₁)/(P (1-f))+g
k_ncs = $1,24/($23(1-0,10)) + 8%
= $1,24/$20,70 + 8,0%
= 6,0% + 8,0%
= 14,0%
Pengertian Weighted Average Cost Of Capital (WACC)
Tingkat biaya menggunakan modal yang harus diperhitungkan oleh perusahaan adalah tingkat biaya penggunaan modal perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena biaya dari masing-masing sumber dana itu berbeda-beda maka untuk menetapkan biaya modal dari perusahaan secara keseluruhan perlu menghitung “weighted average” dari berbagai sumber dana tersebut.
Rata-rata tertimbang biaya modal (weighted average cost of capital) adalah laba dari investasi baru dengan risiko rata-rata yang perusahaan harus harapkan untuk mempertahankan harga saham. Biaya modal pada dasarnya merupakan biaya modal rata-rata tertimbang dari biaya modal individual.
Untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
WACC : biaya modal rata-rata tertimbang
k_d : biaya utang
w_d : proporsi utang terhadap total dana jangka panjang
k_ps : biaya saham preferen
w_ps : proporsi saham preferen terhadap total dana jangka panjang
k_cs : biaya saham biasa
w_cs : proporsi saham biasa terhadap total dan jangka pendek
Pengertian Marginal Cost Of Capital (MCC)
Tambahan biaya modal rata-rata tertimbang akibat bertambahnya satu rupiah dana jangka panjang (baik yang berasal dari utang, saham preferen, dan saham biasa) disebut sebagai biaya modal marginal (marginal cost of capital/MCC).
Contoh:
Perusahaan manufaktur mempunyai struktur modal sebagaimana berikut (dalam juta rupiah):
Sumber Dana Jumlah Proporsi Biaya
Obligasi Rp. 180,00 30% 7,20%
Saham Preferen Rp. 60,00 10% 10,00%
Saham Biasa Rp. 360,00 60% 14,19%
Rp. 600,00 100%
WACC 11,67%
Informasi Tambahan:
Dividen dibayarkan pada akhir tahun sebesar Rp. 700,00 per lembar. Harga pasar per lembar Rp. 8.000,00. Tingkat pertumbuhan dividen 5% per tahun. Biaya utang (obligasi) sebesar 7,2% sudah dipotong pajak.
Untuk membiayai investasi barunya, perusahaan membutuhkan laba ditahan (saham biasa) sebesar Rp. 120 juta. Andaikata perusahaan ingin tetap mempertahankan proporsi struktur modalnya, maka total modal yang dibutuhkan haruslah sebesar RP. 200 juta (Rp. 120 juta/0,6).
Utang = 30% x Rp. 200 juta = Rp. 60 juta
Saham Preferen = 10% x Rp. 200 juta = Rp. 20 juta
Saham Biasa = 60% x Rp. 200 juta = Rp. 120 juta
Apabila modalnya tidak Rp. 200 juta, jumlah laba ditahan (saham biasa) tidak akan sebesar Rp. 120 juta (jumlah yang dibutuhkan perusahaan). Sekarang perusahaan membutuhkan total modal lebih dari Rp. 200 juta (misalnya, Rp. 250 juta). Hal itu berarti bahwa perusahaan harus mempunyai laba ditahan sebesar Rp. 150 juta (0,6 X Rp. 250 juta). Jumlah laba ditahan yang dimiliki perusahaan hanya berjumlah Rp. 120 juta. Untuk menutup kekurangannya sebesar Rp. 30 juta, perusahaan harus menerbitkan saham biasa baru. Untuk menerbitkan saham biasa baru, perusahaan mengeluarkan biaya emisi sebesar 3%. Hal itu akan berdampak pada meningkatnya biaya saham biasa dan WACC.
K_ncs=(700 (1+5%))/(8.000 (1-3%))+5%=14,47%
WACC = (7,2% x 30%) + (10% x 10%) + (14,47% x 60%) = 11,84%
Gambar Biaya Modal Marginal dan Titik Patah
Jadi, jika kebutuhan modal melebihi Rp. 200 juta, WACC perusahaan akan naik dari 11,67% menjadi 11,84%. Dengan kata lain, untuk setiap penambahan Rp. 1,00, WACC akan meningkat menjadi 11,84%. Inilah yang disebut dengan biaya modal marginal. Adapun titik patahan, ditunjukkan oleh angka Rp. 200 juta, batas tambahan modal yang menaikkan WACC dari 11,67% menjadi 11,84%.
Perusahaan Ambalat mempunyai struktur modal sebagai berikut:
(dalam milyar rupiah)
Sumber Dana Nilai Buku Proporsi Biaya
Obligasi Rp. 320 40% 9%
Saham Preferen Rp. 120 15% 12%
Saham Biasa Rp. 360 45% 16%
Rp. 800 100%
Biaya modal rata-rata tertimbang
= 40% (9%) (1-30%) +15% (12%) + 45% (16%)
= 11,52%
Titik patahan=20/0,4=Rp.50 milyar
Biaya modal marginal
= 40% (10%) (1-30%) + 15% (12%) + 45% (16%)

Sumber


Tulisan 4: Jelaskan Mengenai Keputusan Investasi Dan Struktur Modal

Jelaskan Mengenai Keputusan Investasi Dan Struktur Modal
Keputusan Investasi
Keputusan investasi mempunyai dimensi waktu jangka panjang, sehingga keputusan yang akan diambil harus dipertimbangkan dengan baik, karena mempunyai konsekuensi berjangka panjang pula. Keputusan investasi sering disebut sebagai capital budgeting yakni keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana yang jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi satu tahun. Perencanaan terhadap keputusan investasi ini sangat penting karena beberapa hal : (Sutrisno, 2007: 121-122)
a.  dana yang dikeluarkan untuk keperluan investasi sangat besar, dan jumlah dana yang besar tersebut tidak bisa diperoleh kembali dalam jangka pendek atau diperoleh sekaligus;
b. dana yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka panjang, sehingga perusahaan harus menunggu selama jangka cukup lama untuk memperoleh dana tersebut;
c.  keputusan investasi menyangkut harapan terhadap hasil keuntungan di masa yang akan datang. Kesalahan dalam mengadakan peramalan akan dapat mengakibatkan terjadinya over atau under investment, yang akhirnya akan merugikan perusahaan;
d.  keputusan investasi jangka berjangka panjang, sehingga kesalahan dalam pengambilan keputusan akan mempunyai akibat yang panjang dan berat, serta kesalahan dalam keputusan ini tidak dapat diperbaiki tanpa adanya kerugian yang besar.

Ada beberapa alat analisa atau metode dalam keputusan investasi. Metode yang sering digunakan antara lain :

a.   Metode Net Present Value
Net Present value adalah selisih antara nilai sekarang dari cash flow dengan nilai sekarang dari investasi. Dengan metode ini pertama yang harus dilakukan adalah menghitung present valuedari penerimaan dengan tingkat discount rate tertentu, kemudian dibandingkan dengan present value dari investasi. Keputusan dari penilaian dengan metode ini bila selisih antara PV dari cash flow lebih besar berarti nilai NPV bernilai posotif, artinya investasi yang dijalankan layak, dan sebaliknya apabila selisih PV dari cash flow lebih kecil dibanding dengan PV investasi, maka investasi dipandang tidak layak

b.   Metode Payback Period
Payback period adalah suatu metode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas yang diterima, atau dengan kata lain bahwa payback period digunakan untuk mengukur lamanya dana investasi yang ditanamkan kembali seperti semula.

c.   Metode Profitability Index
Metode  ini menghitung perbandingan antara present value dari penerimaan dengan present value dari investasi. Bila Profitability Index lebih besar dari 1 maka proyek investasi layak untuk dijalankan.

d.   Metode Average Rate of Return
Metode ini mengukur seberapa besar tingkat keuntungan dari investasi. Metode ini menggunakan dasar laba akuntansi, sehingga angka yang dipergunakan adalah laba setelah pajak  dibagi dengan rata-rata investasi.

e.   Metode Internal Rate of Return
Internal Rate of return atau Yield untuk suatu investasi adalah tingkat bunga yang menyamakanpresent value arus kas keluar dan present value arus kas masuk

Struktur Modal
struktur modal adalah proposi dalam menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan dengan sumber pendanaan jangka panjang yang berasal dari dana internal dan dana eksternal, dengan demikian struktur modal adalah struktur keuangan dikurangi utang jangka pendek. Sedangkan pengertian struktur keuangan menurut Farah Margaretha (2004) menggambarkan susunan keseluruhan sisi kredit neraca yang terdiri atas utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan modal sendiri.
Utang jangka pendek tidak diperhitungkan dalam struktur modal karena utang jenis ini umumnya bersifat spontan (berubah sesuai dengan perubahan tingkat penjualan) sementara itu utang jangka panjang bersifat tetap selama jangka waktu yang relatif panjang (lebih dari satu tahun) sehingga keberadaannya perlu lebih dipikirkan oleh para manajer keuangan. Itulah alasan utama mengapa struktur modal hanya terdiri dari utang jangka panjang dan ekuitas. Karena alasan itu pulalah biaya modal hanya mempertimbangkan sumber dana jangka panjang (Handono Mardiyanto, 2009).
Kebutuhan dana yang berasal dari dalam atau sering disebut modal sendiri adalah modal yang berasal dari perusahaan itu sendiri seperti cadangan laba yang berasal dari pemilik seperti modal saham. Modal inilah yang menjadi tanggungan terhadap keseluruhan resiko perusahaan dan dijadikan jaminan bagi kreditor. Sedangkan dana yang berasal dari luar adalah modal yang berasal dari kreditur (panyandang dana), modal inilah yang merupakan utang bagi perusahaan yang bersangkutan (Bambang Riyanto, 1980).
Tujuan dari manajemen struktur modal atau capital structure management adalah menggabungkan sumber – sumber dana yang digunakan perusahaan untuk membiayai operasi. Dengan kata lain, tujuan ini dapat dilihat sebagai pencarian gabungan dana yang akan meminimumkan biaya modal dan dapat memaksimalkan harga saham. Struktur modal yang demikian, dapat kita sebut sebagai struktur modal yang optimal (Ahmad Rodoni dan Herni Ali, 2010).
Konsep penting manajemen modal adalah masalah sumber dana dan penggunaan dana. Dana dapat dipenuhi dari sumber intern ataupun sumber ekstern perusahaan. Dana tersebut dialokasikan untuk membelanjai aktiva perusahaan. Pada hakekatnya, pemenuhan dan pengalokasian dana menyangkut masalah keseimbangan finansial dalam perusahaan, yaitu mengadakan keseimbangan finansial antara aktiva dengan pasiva tersebut dengan sebaik – baiknya. Keseimbangan finansial dapai dicapai, apabila perusahaan tersebut selama menjalankan fungsinya tidak menghadapi gangguan – gangguan finansial yang disebabkan tidak adanya keseimbangan antara jumlah modal yang tersedia dengan modal yang dibutuhkan.
Menurut Bambang Riyanto (2001) di dalam penelitian Elyana Noor Andriyanti (2007) ada dua pedoman structure financial yaitu pedoman structure financial vertical dan pedoman structure financial horizontal. Pedoman structure financial vertical memberikan batas rasio yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan mengenai besarnya modal pinjaman atau  hutang dengan besarnya jumlah modal sendiri. Berdasarkan anggapan bahwa pembelanjaan yang sehat itu awalnya harus dibangun atas dasar modal sendiri, maka pedoman structure financial tersebut menetapkan bahwa besarnya jumlah modal pinjaman atau hutang dalam suatu perusahaan dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh melebihi besarnya jumlah modal sendiri. Dengan demikian angka perbandingan antara jumlah hutang dengan jumlah modal sendiri tidak boleh lebih dari 100%. Adapun structure financialhorizontal memberikan batas rasio antara besarnya jumlah modal sendiri dengan besarnya jumlah aktiva tetap ditambah persediaan bersih. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa dana yang terkait dalam aktiva tetap ditambah persediaan bersih akan tetap tertanam di dalam  perusahaan, sehingga sifat kebutuhan dananya adalah permanen. Sumber dana yang permanen atau sumber dana yang akan tetap tertanam dalam perusahaan adalah modal sendiri.


sumber

http://ekonomi.kabo.biz/2011/02/pengertian-struktur-modal.html